Pages

Kamis, 02 Desember 2010

Makanan Yang Dapat Meningkatkan & Menurunkan Kualitas Sperma




Jika ingin cepat memiliki keturunan, bukan hanya gaya bercinta saja yang menjadi perhatian Anda dan suami. Asupan nutrisi juga tidak kalah penting dan memberikan pengaruh kepada kesuburan.

Seperti yang dikutip dari msn, bahwa memakan makanan tertentu bisa meningkatkan kesuburan seorang pria. Tidak ada salahnya Anda sebagai istri menyajikan makanan yang bisa meningkatkan kesuburan sang suami. Berikut makanan yang sebaiknya dikonsumsi dan dihindari oleh suami.

Konsumsi:

1. Buah-buahan
Nutrisi seperti folat, vitamin C dan lycopene hanya dapat ditemukan dalam buah-buahan seperti strawberry, jeruk, pepaya dan lainnya. Menurut hasil sebuah studi yang terdapat dalam jurnal Fertility and Sterility, nutrisi-nutrisi tersebut dapat membantu meningkatkan jumlah sperma. Para peneliti berspekulasi bahwa antioksidan dapat memperbaiki kualitas sperma.

2. Ikan
Kandungan asam lemak omega 3 yang terkandung dalam ikan terbukti dapat membantu meningkatkan kualitas sperma, seperti yang disarankan oleh jurnal Lipid Research. Peneliti dari University of Illinois menemukan bahwa tikus yang mengkonversi asam alpha-linoleat (ALA) ke dalam DHA omega-3 tampak lebih subur. Meskipun demikian, penelitian ini masih dini untuk memberikan rekomendasi seberapa banyak pasangan Anda dapat mengkonsumsi omega-3.

Hindari:

1. Soda
Sebuah studi 2010 Denmark menemukan bahwa mengonsumsi soda dapat mengurangi kualitas sperma. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pria yang mengkonsumsi lebih dari 20 kaleng soda seminggu atau tiga kaleng dalam sehari cenderung memiliki jumlah sperma yang sedikit.

2. Kacang Kedelai
Sebuah penelitian dalam jurnal Endokrinologi Molekuler and Cellular menjelaskan bahwa mengonsumsi kacang kedelai untuk jangka panjang, dapat menurunkan jumlah sperma. Penelitian tersebut dilakukan terhadap tikus jantan dan menunjukkan bahwa kedelai yang dikonsumsi setiap hari dapat menurunkan 25 persen sperma dari jumlah normal. Para ilmuwan juga mencatat perubahan dalam gen yang terlibat dalam motilitas sperma pada tikus yang mengkonsumsi kedelai. Para peneliti menduga bahwa isoflavon kedelai dapat menurunkan kualitas sperma.

sumber : detik

Cegah Penyusutan Otak Dengan Berjalan kaki




Berjalan kaki setidaknya sejauh enam mil dalam satu pekan boleh jadi merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyusutan otak dan melawan demensia, menurut sejumlah peneliti Amerika Serikat, Rabu.

Sebuah penelitian terhadap hampir 300 orang di Pittsburgh, Amerika Serikat, yang terus mencatat berapa jauh mereka berjalan kaki setiap pekan, menunjukkan bahwa mereka yang berjalan setidaknya enam mil atau 9,6 kilometer lebih sedikit mengalami penyusutan otak yang terkait usia daripada orang yang berjalan kurang dari itu, sebagaimana dikutip dari Reuters.

"Penyusutan ukuran otak di masa dewasa akhir dapat menyebabkan masalah pada daya ingat. Hasil penelitian kami seharusnya mendorong dirancangnya suatu latihan fisik yang baik bagi orang lanjut usia sebagai sebuah pendekatan yang menjanjikan untuk mencegah demensia dan penyakit Alzheimer, "kata Kirk Erickson dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, yang penelitiannya muncul di jurnal Neurologi.

Penyakit Alzheimer, bentuk paling umum dari demensia, perlahan-lahan membunuh sel-sel otak, dan kegiatan seperti berjalan kaki telah terbukti meningkatkan volume otak.

Erickson dan rekan-rekannya melakukan penelitian untuk melihat apakah orang yang banyak berjalan kaki memiliki nilai tawar yang lebih baik untuk memerangi penyakit itu.

Mereka melakukan penelitian pada 299 sukarelawan yang bebas penyakit demensia dan mencatat secara rutin berapa jauh mereka berjalan dalam satu pekan.

Sembilan tahun kemudian, para peneliti itu mengambil foto otak dari setiap sukarelawan untuk mengukur volume otak mereka. Setelah empat tahun lagi, mereka kembali melakukan pengujian untuk melihat

jika ada sukarelawan yang mengalami kerusakan kognitif atau menderita demensia.

Mereka menemukan bahwa orang yang berjalan kaki kira-kira enam sampai sembilan mil atau 9,6 km -14,4 km dalam sepeka, memiliki resiko terserang gangguan daya ingat lima puluh persen lebih rendah dari mereka yang berjalan kaki kurang dari itu dalam sepekan.

"Hasil penelitian kami sejalan dengan data yang menyebutkan bahwa kegiatan aerobik menginduksi sejumlah sel-sel kaskada yang dapat

meningkatkan volume materi abu-abu," menurut tim peneliti itu.

Mereka mengatakan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan mengenai dampak latihan pada penderita demensia, tetapi dengan tidak adanya pengobatan efektif bagi Alzheimer, berjalan kaki mungkin adalah satu hal yang dapat dilakukan untuk membantu.

"Jika olahraga teratur bagi orang paruh baya dapat meningkatkan kesehatan otak dan meningkatkan daya ingat dan berpikir di kemudian hari, itu cukup menjadi salah satu alasan untuk melakukan olahraga secara teratur pada setiap golongan usia, sebuah upaya peningkatan kesehatan masyarakat," kata Erickson.

Saat ini tidak ada obat yang dapat menghentikan perkembangan Alzheimer, yang mempengaruhi lebih dari 26 juta orang di dunia.

sumber : antara

Ingin Otak Anda Berkembang, Sayangilah Anak Anda




Kepercayaan yang populer di tengah masyarakat menunjukkan, kemampuan otak perempuan akan menurun selama kehamilan dan setelah melahirkan. Namun hasil penelitian membuktikan sebaliknya. Penemuan itu dipublikasikan di Journal Behavioural Neuroscience.

Penelitian yang dipublikasikan oleh American Psycological Association itu menemukan bahwa otak dari seorang ibu yang baru melahirkan akan semakin berkembang karena ia harus belajar menyesuaikan diri dengan anaknya yang baru lahir. Uniknya lagi, ibu yang mencurahkan segenap perhatian kepada anaknya akan mengalami perkembangan paling tinggi pada bagian utama dari otak, demikian di kutip The Telegraph edisi Rabu (20/10).

Para peneliti dari National Institute of Mental Health, di Maryland, Amerika Serikat memindai otak dari 19 perempuan yang melahirkan 10 bayi laki-laki dan sembilan bayi perempuan.

Perbandingan gambar hasil pemindaian yang dilakukan pada tiga sampai empat bulan setelah melahirkan, menunjukan bahwa volume 'grey matter' bertambah dalam jumlah yang meski kecil tetapi sangat signifikan pada beragam bagian otak.

'Grey matter' adalah komponen utama dari sistem syaraf pusat yang berfungsi untuk menyalurkan ransangan sensoris dan motoris antarneuron untuk meciptakan reaksi atas ransangan yang telah diterima tubuh.

Lazimnya pada orang dewasa, 'grey matter' tidak akan berubah dalam beberapa bulan tanpa proses belajar yang signifikan, cidera otak atau karena penyakit, dan akibat perubahan yang pada lingkungan.

Para peneliti berspekulasi bahwa tingkat hormon dan tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan setelah memiliki anak telah mendorong produksi sel otak.

Wilayah-wilayah dalam otak yang tercakup dalam perkembangan itu adalah pertama hypotalamus yang mengatur motivasi, kedua amygdala, indera, dan lobus parietal tempat proses penghormatan dan emosi, dan yang terakhir korteks prefrontal yang mengatur penalaran dan penilaian.

Menurut dua pakar ilmu syaraf, Dr Craig Kinsley dan Dr Elizabeth Meyer, motivasi untuk membesarkan anak dan karakter keibuan yang tampak dari seorang ibu mungkin bukan hasil dari insting tetapi lebih kepada hasil pengembangan otak.

Ibu yang sangat mencintai anaknya dan menjuluki buah hatinya itu sebagai si spesial, cantik, sempurna, ideal mengalami perkembangan otak yang lebih besar ketimbang mereka yang tidak begitu 'jatuh cinta' pada anaknya.

Meki penelitian itu masih harus diteliti kembali dengan jumlah sampel yang lebih banyak, penemuan itu telah menimbulkan pertanyaan tentang interaksi antara ibu dan anak.


sumber : Antara

Bila Anak tak Ingin Overdosis, Jangan Asal Pakai Sendok


Berhati-hatilah memberi obat kepada anak, terutama bayi. Parasetamol cair untuk anak di bawah usia lima tahun misal, bila diberikan kepada bayi akan berisiko kelebihan dosis.

Situasi itu ternyata diperparah oleh ketidakmampuan orang tua memberi anak-anak mereka dosis tepat dari obat cair, demikian klaim para periset Australia. Menggunakan sendok makan biasa untuk mengukur--sebagai satu kebiasaan--dianggap berpotensi membahayakan anak-anak, demikian ungkap mereka.

Anak-anak di bawah usia lima tahun adalah kelompok paling berisiko mengalami overdosis. Berdasar sebuah studi yang dilakukan di Lisbon terhadap 97 oran dewasa mengungkap 61 persen dari mereka salah mengukur dosis dengan rincian, 17 persen dari 61 persen kelebihan mengukur dosis dan 44 persen sisanya tidak cukup memberi dosis.

Ilmuwan dari Universitas Sidney, Dr Rebekah Moles, meminta 97 orang yang mengunjungi pusat pengasuhan anak untuk balita di kota mengikuti studi tersebut. Komposisi responden yakni, 53 persen adalah ibu, tujuh orang lagi adalah ayah dan sisanya staf di pusat pengasuah tersebut.

Periset memberi mereka kuis sejumlah skenario, yang menanyakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sebagai contoh, mereka diberitahu bahwa anak terkecil mengalami panas tinggi dan demam namun tetap minum, makan dan bahkan bermain.

Kemudian beberapa obat penyembuhan diberikan dalam kuis bersama dengan pilihan sendok dan peralatan pengukur dosis lain. Para relawan diminta memilih pada kondisi mana mereka akan menggunakan obat untuk anak mereka dan bagaimana cara mengukur dosis tersebut.

Berdasar seluruh skenario yang diberikan dalam kusi, kata Moles, 61 partisipan ternyatan memberi dosis tidak tepat. "Bahkan kami menemukan 7 persen relawan akan memberi obat tanpa memeriksa dulu temperatur si bocah sedangkan 46 persen akan memberi obat ketika temperatur kurang dari 38 derajat Celsius," ujarnya. Total, kata dia, hanya 14 persen yang mampu menjawab skenario pengobatan dengan tepat.

"Kami terkejut sekaligus prihatin atas temuan ini. Setiap orang ternyata berpikir obat-obatan tentunya aman karena mereka dapat dibeli di toko tanpa resep," ujarnya.

Sebagai contoh, seorang orang tua berkata pada periset bahwa Panadol (penghilang nyeri berbasis parasetamol) yang mudah diperoleh, tak akan berbahaya bila dosis digandakan. "Kondisi ini mendesak untuk dikaji ulang agar orang tua tak mudah memberi obat yang dijual bebas kepada anak-anak tanpa perhatian," ujar Moles.

"Kami mendapat pengakuan itu dengan cara menjadikan seorang periset sebagai pembeli misterius dengan mendatangi farmasi. Kami melihat saran apa yang diberikan apoteker ketika kami mengajukan skenario seperti dalam kuis," tutur Moles.

Neal Patel, pakar farmasi dari Masyarakat Farmasi Inggris, mengatakan sungguh penting untuk orang tua memberi anak mereka dosis yang tepat. "Jika mereka tidak yakin terhadap dosis bagi anak-anaknya mereka harus melihat petunjut pada kemasan atau mencari saran dari apoteker setempat," ujarnya.

"Obat-obatan selalu dipasok dalam kemasan yang menandakan untuk anak dan orang tua seharusnya dapat mencegah kecelakaan overdosis terhadap anak-anak dengan selalu menempatkan obat di luar jangkauan dan mata anak," ujarnya Patel menekankan.

"Obat harus diberikan dengan seksama menggunakan sendok takar atau pengukur dosis lain, demi memastikan anak tidak menerima dosis lebih atau kurang dari yang dianjurkan," ujarnya.

"Sendok makan biasa tak seharusnya digunakan sebagai pengganti sendok takar, karena mereka tidak bisa mengukur jumlah obat cair secara akurat," imbuhnya. Riset terhadap 97 orang dewasa itu dijadwalkan untuk dipublikasikan pada publik pada pekan ini.


sumber : republika online