Pages

Kamis, 02 Desember 2010

Dampak Mandi Sehabis Begadang Menyebabkan Kematian

Buat yang suka begadang, pasti tau kalo begadang sangat tidak baik buat kesehatan. Bahkan kurang tidur bisa menyebabkan kematian, di tambah lagi kalo setelah begadang langsung mandi. Katanya bisa kena “Masuk Angin Stadium 5″ loh..!!

Dampak Kurang Tidur dan Mandi setelah Begadang bisa Menyebabkan Kematian.


Selain itu, kalo mandi sehabis begadang juga beresiko terkena paru-paru basah dan Angin Duduk (gue masih belum ngerti tuh penyakit) yang bisa berakibat fatal, bahkan meninggal mendadak. Abis mandi lemes, pusing trus tidur tapi gak bangun lagi, serem kan..?

Ada sebuah cerita pengalaman nyata :
Mahasiswa seni rupa ITB yang ngerjain tugas akhir sambil begadang, dan pas besoknya mau presentasi buat sidang akhir, dia pulang dulu sekalian mandi, ternyata dia meninggal. Bener-bener yang namanya “tugas akhir” tuh.

Untuk penjelasan secara logis tentang sehabis begadang langsung mandi sederhananya adalah seperti ini :

Tubuh kamu yg begadang itu sebenarnya melakukan banyak aktivitas yg seharusnya pada waktu itu harus segera di istirahatkan.
Karena banyak aktivitas yg terjadi di dalam tubuh kita, tanpa kita sadari terjadi pemanasan dari dalam tubuh kita.
Nah, bayangin aja kalo dari suhu tubuh yg panas tiba2 disiram dengan air di pagi hari yg suhunya jauh lebih dingin ketimbang suhu tubuh kamu, apa yg akan terjadi ??
yups, benar … Penurunan suhu tubuh yg sangat drastis dan spontan. Sedangkan tubuh kita tidak dirancang untuk itu.

Kejadian itu mempunyai logis yg sama halnya dengan “terjun dari ketinggian yg menggunakan parasut” dan “terjun tanpa menggunakan parasut” .
Bisa membayangkan apa akibatnya ?? sangat jauh berbeda bukan ??

Makanya sangat dilarang untuk tidak langsung mandi disaat setelah begadang.. Karena berbahaya…!!!

Jadi kalo bisa setelah begadang jangan langsung mandi, usahain tidur walaupun cuma 10 menit. Niat aja tidur bentar, paling bablas nyampe 10 jam. Tapi lebih baik dari pada terkena dampak Mandi Sehabis Begadang buat tubuh gak baik, bahkan menyebabkan kematian. Iya toh.. Arie Pinoci terkait Bahaya Sehabis Begadang Langsung Mandi.



Sumber : kaskus.us

Di Indonesia Ternyata Dokter dan Pasien Simpan Rasa Saling Curiga




Pelayanan kesehatan di Indonesia bagaikan fenomena "David versus Goliath" dengan pasien sebagai David dan dokter bagaikan Goliath. "David lawan Goliath, fenomena si kecil melawan si besar, proletar lawan borjuis yang tidak pernah ada titik temunya," kata Prof Dr Herkutanto SH, LLM, guru besar tetap pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu.

Dalam fenomena itu, pasien dan dokter lebih mengedepankan konflik dan ketidakpercayaan. "Kebenaran suatu peristiwa sering kali diabaikan," kata saksi ahli kasus RS Internasional Omni versus Prita itu.

Seharusnya, lanjut dia, pasien percaya bahwa dokter akan bekerja untuk kepentingan pasien, sedangkan dokter percaya bahwa pasien beritikad bekerja sama.

Ia mengakui banyak masyarakat bersikap skeptis terhadap hubungan pasien dengan dokter seperti itu. "Hal inilah yang mengakibatkan lunturnya hubungan ideal antara pasien dan dokter," katanya dalam lokakarya Peran Kemitraan Dalam Hubungan Dokter dan Pasien Bagi Media Massa itu.

Untuk itu, saran dia, diperlukan komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien untuk menghindari saling curiga. "Kalau pasien tidak bisa diajak berkomunikasi, bicaralah dengan keluarganya," katanya.

Herkutanto mengemukakan bahwa Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran berprinsip memberikan perlindungan terhadap masyarakat.

"Kalau ada yang melanggar prinsip-prinsip itu maka ada instansi sendiri yang menanganinya," kata Ketua Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan DKI Jakarta itu.

Pada tingkat nasional, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memiliki lembaga independen berupa Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

"MKDKI ini merupakan instrumen perlindungan utama bagi masyarakat dari tenaga medis yang tidak profesional," kata Herkutanto.

MKDKI hanya menangani pengaduan masyarakat terhadap praktik kedokteran yang dilakukan dokter pemegang Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan KKI.

Setiap dokter yang menjalankan tindakan dan praktik kedokteran wajib memiliki STR dan surat izin praktik. Hingga saat ini KKI telah mengeluarkan sedikitnya 126 ribu STR.

"Tidak semua sarjana lulusan Fakultas Kedokteran memiliki STR dan SIP. Bagi orang yang melakukan tindakan dan praktik kedokteran tanpa dilengkapi STR dan SIP bisa dikenai hukuman selama lima tahun penjara dan denda Rp 300 juta sebagaimana diatur dalam UU Nomor 29/2004," katanya.


sumber : republika

10 Kebiasaan yang tak disadari bisa merusak Gigi Kita

Jangan merasa sombong dulu jika ngerasa gigi anda cukup sehat, coba perhatikan lagi apakah tidak pernah merasa ngilu ketika makan dingin, panas atau manis ?
Jika gigi mulai menguning akibat kebiasaan ngopi, atau gusi terlihat menipis, itu tandanya kita juga tengah mengalami masalah gigi yang serius. Untuk itu, perhatikan kebiasaan-kebiasaan berikut untuk mengetahui apakah kesehatan gigi sudah cukup terjaga.


1. Menggosok gigi terlalu keras
Menggunakan sikat gigi dengan bulu yang keras, ditambah lagi dengan tekanan yang terlalu kuat saat menggosok gigi, bisa menghilangkan enamel pelindung gigi secara permanen. Hal inilah yang memicu gigi sensitif dan lubang gigi, sertanya menyebabkan gusi mundur (menipis). Disarankan, gunakan sikat gigi dengan bulu halus, lalu gosok gigi dengan gerakan memutar selama 2 menit, sedikitnya dua kali sehari. Sikat gigi dengan kepala yang ramping dapat bergerak dengan mudah di dalam mulut yang kecil, sedangkan gagang sikat yang panjang lebih mampu menjangkau geraham belakang daripada yang pendek.



2. Pasta gigi yang salah
Jangan langsung percaya dengan pasta gigi yang diklaim mengandung berbagai bahan yang bermanfaat. Beberapa pasta gigi, khususnya yang didesain sebagai "tartar control" bisa menyebabkan abrasi. Pasta gigi yang mengandung butiran-butiran terasa kasar dapat mengikis enamel gigi dan menyebabkan gusi menipis. Pasta gigi dengan fluoride sudah cukup untuk Anda.



3. Tidak menggunakan dental floss
Bakteri pada gigi dapat berkembang menjadi plak, penyebab utama lubang dan penyakit gusi, dalam 24 jam. Gunakan benang gigi sekali sehari untuk mengusir plak.



4. Sering minum minuman bersoda
Minuman berkarbonasi, alias minuman bersoda yang mengandung asam fosforik, yang lama-kelamaan dapat mengikis gigi. Jika kita biasa menikmati minuman ini, gunakan sedotan untuk meminimalisasi kontak langsung cairan tersebut dengan gigi. Jangan lupa gosok gigi sesudahnya.



5. Makanan yang meninggalkan noda
Enamel gigi itu seperti spons. Makanan atau minuman yang meninggalkan noda di piring atau cangkir, seperti kopi, teh, minuman berkola, saus marinara, atau kecap, juga akan membuat gigi berangsur menjadi kuning. Mintalah dokter gigi untuk melakukan perawatan laser whitening, bleaching, atau Prophy Power, prosedur baru dimana sodium bicarbonate (bahan pemutih yang lembut) dicampur dengan semburan air yang kuat untuk mengangkat noda tanpa menghilangkan enamel. Pasta gigi dengan pemutih memang bisa sedikit memutihkan gigi, tetapi cenderung terlalu tajam untuk enamel.



6. Doyan ngemil yang tidak sehat
Setiap kali kita makan sesuatu, apalagi yang manis atau mengandung tepung, bakteri yang biasa hidup di dalam mulut akan menciptakan asam untuk memecah makanan tersebut. Namun asam ini juga bisa menyerang gigi, menyebabkan gigi rusak. Sebagai gantinya, pilih buah-buahan dan sayuran yang renyah (seperti apel atau wortel) baik sebagai lauk maupun sebagai cemilan. Para ahli kesehatan gigi bahkan mempertimbangkan jenis makanan seperti ini sebagai sikat gigi alami karena efeknya pada plak yang bagaikan detergen. Mengunyah permen karet tanpa gula seperti Xylitol juga membantu mencegah lubang gigi, dengan meningkatkan aliran liur. Liur yang mengalir akan mengusir bakteri penyebab lubang gigi.



7. Menggunakan gigi sebagai alat bantu
Membuka kantong keripik yang terbuat dari aluminium foil dan melonggarkan simpul menggunakan gigi ternyata dapat menyebabkan gigi retak dan pecah, serta merusak perawatan gigi yang sedang dilakukan. Kebiasaan lain yang merusak gigi adalah mengunyah es batu, cokelat yang sudah membeku, atau permen.



8. Mengabaikan masalah gigi
Gusi berdarah, dan nafas berbau yang sudah kronis, adalah indikasi adanya penyakit gusi. Untuk mengatasi bau mulut, minumlah cukup air untuk menjaga kelembaban mulut, dan membuang kelebihan bakteri dengan pengerok lidah (banyak dijual di apotek). Untuk mencegah gusi berdarah, gosok gigi secara teratur dan gunakan benang gigi. Segera ke dokter bila gejala ini tak juga mereda.



9. Menghindari dokter gigi
Sangat disarankan untuk memeriksa kesehatan gigi dua kali dalam setahun, namun saran ini tampaknya cenderung diabaikan. Padahal, jika gusi mengalami masalah, setidaknya kita harus kontrol ke dokter setiap tiga bulan.




10. Mengabaikan masalah pada bibir
Tak peduli betapa baiknya kondisi gigi Anda, senyum Anda tak akan terlihat cerah bila bibir dibiarkan kering dan pecah-pecah. Kulit pada bibir, yang lebih tipis daripada kulit lainnya, cenderung akan kehilangan kelembabannya dan berubah seiring bertambahnya usia. Menggunakan lip balm dengan pelembab setiap hari akan sangat membantu agar bibir tidak kering

Parasetamol Berdampak Buruk bagi Batita?

Penggunaan parasetamol untuk bayi mungkin berhubungan dengan pengembangan alergi dan asma di kemudian hari. Tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi temuan ini.

"Penelitian lanjutan perlu, apalagi manfaat penggunaan parasetamol untuk pengendalian demam masih lebih besar daripada potensi pengembangan alergi di kemudian hari," kata Julian Crane, profesor di Universitas Otago Wellington dan penulis laporan ini.

Laporan yang telah muncul dalam jurnal Clinical and Experimental Allergy  didasarkan pada studi nasional mengenai asma dan alergi. Penelitian ini menyasar penggunaan parasetamol untuk 505 bayi di Christchurch dan 914 anak usia 5-6 tahun untuk melihat apakah mereka mengembangkan tanda-tanda asma atau sensitivitas alergi.

"Temuan utama adalah bahwa anak-anak yang menggunakan parasetamol sebelum usia 15 bulan (90 persen) lebih dari tiga kali lebih mungkin untuk menjadi peka terhadap alergen dan dua kali lebih mungkin mengembangkan gejala asma pada enam tahun daripada anak-anak tidak menggunakan parasetamol," kata Crane dalam sebuah pernyataan.

Penelitian ini menemukan bahwa hingga enam tahun, 95 persen dari sampel penelitian menggunakan parasetamol dan ada peningkatan risiko yang signifikan untuk asma dan mengi. Tapi temuan tergantung pada seberapa banyak parasetamol telah digunakan, dengan risiko lebih besar bagi mereka dengan gejala asma parah.Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: Reuters

Sumber:http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/10/11/29/149400-parasetamol-berdampak-buruk-bagi-anak-usia-dini